Balad OMO

Jumat, 24 Juni 2016

Visi & Misi (Calon) Kapolri Baru



Komjen Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, MA, Ph.D. (Lahir di Palembang, Sumatera Selatan, 26 Oktober 1964), yang akan dilantik Juli 2016.
Visi: Terwujudnya Polri yang makin profesional dan modern.
Delapan Misi:
1.      Melanjutkan reformasi internal Polri.
2.      Mewujudkan organisasi dan postur Polri yang ideal dengan didukung sarana dan prasarana kepolisian yang modern.
3.      Mewujudkan pemberdayaan kualitas sumber daya manusia Polri yang profesional dan kompeten, yang menjunjung etika dan HAM.
4.      Meningkatkan kesejahteraan anggota Polri.
5.      Meningkatkan kualitas pelayanan prima dan kepercayaan publik.
6.      Meningkatkan kemampuan pencegahan kejahatan dan deteksi dini berlandaskan prinsip pemolisian proaktif dan pemolisian yang berorientasi pada penyelesaian akar masalah.
7.      Meningkatkan harkamtibmas dengan mengikutsertakan publik melalui sinergi polisional.
8.      Mewujudkan penegakan hukum yang profesional, berkeadilan menjunjung tinggi HAM dan anti KKN.
Anotasi Mini:

1.      Misi ke-5, kata Tito, mudah diakses publik.
2.      Wakil kita kok ANEH, malah mempersoalkan gaji Polri yang rendah. Padahal semua tahu, Polri dan abdi Negara yang lain mendapat fasilitas, tunjangan, bla bla bla dari Negara, sedangkan Rakyat?
3.      Harkamtibmas: pemeliharan keamanana dan ketertiban masyarakat.

Sumber:
-          http://news.liputan6.com/read/2538186/8-visi-misi-tito-karnavian-bila-jadi-kapolri
-          http://sumbarhebat.com/polisi-di-tanah-air-harus-ketahui-inilah-visi-misi-calon-kapolri-tito-karnavian/
-          https://news.detik.com/berita/3240337/fpkb-pesimistis-tito-mampu-wujudkan-visi-misi-selama-gaji-polisi-rendah.

Bandung, 20160624, 08.08.

Anti-Narkoba



Menyambut 26 Juni: Hari Anti-Narkoba.

Anti itu melawan, menentang, memusuhi; tidak setuju, tidak suka, atau tidak senang. narkoba itu narkotika dan obat/bahan berbahaya atau napza: narkotika, psikotropika, dan zat adiktif. KITA Anti-Narkoba!

Di Lapas, masih bisa ngonsumsi narkoba; malah masih bisa mengatur peredaran, perdagangan, bahkan lalu-lintas narkoba; maka BNN pun miris, apalagi kita. Menjelang musim mudik Lebaran ini, kita apresiasi kiat Yang Berwajib akan merazia bawa-an pemudik karena dikhawatirkan ada ‘titipan’ narkoba.

Mungkin, narkoba itu NIKMAT bagi yang berduit; bagi yang stres; bagi yang frustasi; atau bagi yang lupa diri, meski sesaat. CILAKA bagi yang tidak berduit; terus nyandu; terus nekat; terus nyuri; terus anarkis; terus jadi Iblis yang PASTI akan mencelakakan kita (manusia) dan abadi. Jadi, bukan sekadar pemakai lagi, tapi menjadi pengedar, bahkan produsen (bandar). Iblis itu TIDAK MENGERIKAN; dia/ia itu ganteng/cantik; dia/ia itu pintar; makanya kita slalu tergoda, bahkan tanpa rayuannya lagi pun, kelak, kita manut mengikutinya jika kita TIDAK BERIMAN.

Melawan Iblis adalah perlawanan sepanjang masa; perlawanan yang ekuivalen dengan fluktuasinya keberimanan kita. Melawan atau anti-narkoba, sesungguhnya, adalah melawan diri-sendiri karena begitu pintarnya Iblis (baca: mereka, para pemakai, pengedar, dan produsen), sehingga kita tidak sadar telah mendukung hajat mereka. Misalnya, kita biarkan kawan atau relasi kita mengonsumsi narkoba; kita jadi segan jika kita tegur dengan asumsi bahwa kita akan dikucilkan olehnya atau oleh komunitas itu. Dengan iman, jauhi saja kawan itu; atau justru dengan iman, kita tegur kawan itu, kita ingatkan bahwa narkoba banyak madaratnya, banyak negatifnya yang akan berimbas ke kita juga!

Anti-narkoba adalah anti-mafia karena narkoba dikonsumsi, beredar, atau diproduksi tidak oleh perorangan; pasti oleh kelompok, oleh sindikat; pasti banyak pihak yang terlibat. Karena itu, anti-narkoba adalah kerja bersama, kerja bangsa, bahkan kerja sedunia. WOW, network-nya menggurita; manifesnya vicious circle; dikarenakan iming-iming menggiurkan: untung yang melimpah dalam waktu singkat!

Mengapa kita anti-narkoba? Karena narkoba membunuh massal, genosida generasi. Kita masygul, mereka pun menyasar generasi muda, bahkan anak-anak kita, yang nota-bene generasi labil. Sementara generasi muda adalah generasi penerus bangsa, calon pemimpin masa depan. Sungguh bom waktu, tinggal menunggu kehancuran sebuah bangsa/negara jika kita biarkan.

Narkoba, mereka kemas dengan segala cara; dengan segala rupa; kasat mata dan menarik. Itulah kerja Iblis!
Sungguh banyak jalan menuju narkoba. Sebutlah atas nama kebutuhan pokok kita (makanan-minuman), kesenangan (dugem), atau atas nama solidaritas ‘pertemanan’ kita. Yang mulai kentara cepat nyambung dengan narkoba adalah melalui rokok dan miras, apalagi suka ber-dugem … Trust me!

Mengapa kita care? Karena, kata BNN, setiap hari di RI ini 50 orang mati gara-gara mengonsumsi narkoba. Sungguh hidup yang sia-sia! Karena itu, sebagai kawan, sebagai saudara sebangsa setanah-air, yuk jauhi narkoba, kita bantai, kita babat habis narkoba ke akar-akarnya, yakni menyadarkan diri bahwa narkoba itu kerja Iblis; Iblis itu musuh yang nyata bagi kita; dan narkoba itu membunuh kita; sedangkan kita ialah doa ibu-bapak; andalan keluarga; harapan bangsa; calon pemimpin negeri ini; dan wakil Tuhan di bumi ini. Begitu banyak yang mencintai kita. Cintailah diri, jangan tergoda Iblis, jauhilah narkoba! Say "No!" to drugs, dadah narkoba!



Ayolah Garuda

narkoba
narikan roko batur
[nerima rokok orang lain]
narik kolor batur
[perosotin CD orang lain]
sedangkan menurut wikipedia,
narkotika dan obat/bahan berbahaya atau
napza: narkotika, psikotropika, dan zat adiktif

sudah tau bahaya
masih juga dicoba
sudah tau candu
masih juga digugu
sudah tau mudarat
carilah selamat!

ayolah garuda, jangan sia-siakan
hidup sebelum matimu
sehat sebelum sakitmu
kaya sebelum miskinmu
sempat sebelum sempitmu
muda sebelum tuamu

ayolah garuda, kamu
ialah zigot yang terpilih dari berjuta saudaramu
ialah doa ibu-bapakmu
ialah andalan keluargamu
ialah harapan bangsamu
ialah calon pemimpin negerimu
ialah wakil Tuhanmu

ayolah garuda,
bergeraklah, berkaryalah
terbanglah, berimanlah
awasi kami, jaga KITA

20160421 @Ujungberung


Ayolah brobray, kaduhung mah tara ti heula (Sunda: menyesal itu tidak pernah di depan)!


















Bandung, 20160624, 03.59.

Kamis, 23 Juni 2016

kutipan yang saya ingat



bkkbn : bonus demografi; usia kerja melimpah, lapangan kerja sempit.
kpk : gratifikasi itu korupsi, parsel lebaran pun!
Ombudsman : menerima laporan atas dugaan maladministrasi dalam penyelenggaraan pelayanan publik.
bnn : setiap hari di RI ini 50 nyawa mati sia-sia karena narkoba!
... (bersambung).

Rabu, 22 Juni 2016

Jakarta






















HBD Jakarta, ibukotaku ...
Siapa Suruh Datang Jakarta (Koes Plus)
Jakarta (Iwan Fals): "Musim kemarau kebakaran, musim hujan banjir ...!"
"Ei, ati-ati kompor meleduk!" (Bang BS)
...
22 Juni: Hari Ulang Tahun Kota Jakarta (sejak tahun 1527)



#seiring

Siapa yang atur penempatan PNS/ASN dan Polri/TNI: BKN, Menpan RB, atau Kemendagri? Coba diatur sesuai KTP, atau bagusnya sesuai TTL bersangkutan. Karena sinkron dengan #semangat_otda serta ekuivalen tidak hanya dengan #sense of belonging, tetapi terutama dengan sense of crisis dan responsibility … Ada kata #semangat, ada kata #fokus, ada kata #murah_meriah kerja jika PNS/ASN dan Polri/TNI itu bekerja sesuai KTP atau TTL-nya. Mengapa dibikin repot, Kawan?

Jangan omong ‘nasionalisme’ atawa ‘ikhlas beramal’, coba Ente yang ngalamin! Namun, jika alokasi terpaksa dilakukan a.n. memenuhi kuota/ratio: boleh-lah, ini pun dengan catatan: (1) diberi kompensasi gaji/honor-tunjangan/fasilitas dilebihkan/diistimewakan dan (2) bertugas hanya dalam hitungan maksimal 3 – 6 bulan seraya dipersiapkan pergantian petugas dari putra pribumi/daerah.

Nah, seiring membludaknya penduduk di Jawa, #teladan Nasionalis atau Penggagas Otda itu sendiri eloknya #balik_kampung … Kalo bukan oleh Ente, oleh siape lagi; kalo bukan skarang, kapan lagi?

Aku masih berpikir Indonesia itu Bangsa-Negara besar dengan SDM dan SDA yang berlimpah, #Indonesia_itu_kaya_raya, demikian kata Ibu Guru SD-ku. Ya, #desentralisasi itu solusi.



Edit@20170723, 20.43

Selasa, 21 Juni 2016

Butir















apa kabar kawan
sudahkah menanam
bagaimana panenmu

bisa dibilang kita senasib
panen melimpah, harga murah
musim paceklik, leher tercekik

kita juga satu identitas
buruh huruf, tani tanah
setiap butir harus bermakna
pun entitas kita
al-muhibbu liwathanihi
(pencinta tanah-air)
huruf dan tanah harus dihidupkan
bukan untuk Tuhan, untuk kita kok
memang perkenan tuan tanah lah
pasti, si ijon spekulan wara-wiri
ter la lu jika rasa jadi komoditas
ekspor mentah, impor sampah
ironi gemah ripah loh jinawi
idem dunia sastra

mungkin, swadesi jadi solusi
citizen journalism jadi trendi
untuk swasembada, untuk HKI

met bermimpi, petani, eh, berkreasi!

bdg, 20160621, 20.45
cq. 21 Juni: #Hari_Krida_Pertanian

Sumber foto: google/butir/herizalwi.blogspot.com
(saya tambah "A1M5Z0" = awal-tengah-akhir huruf & angka).
@20160924 = Hari Tani, kutanya: ke mana tembakau?