Balad OMO

Jumat, 17 Juni 2016

Menulis



Masih Ampuh















Menulis sebagaimana definisi dari KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah 1 membuat huruf (angka dsb) dengan pena (pensil, kapur, dsb); 2 melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan; 3 menggambar; melukis; dan 4 membatik (kain). Maksud ‘menulis’ pada esai ini adalah nomor 1 dan 2. Sinonim kata ‘menulis’ adalah ‘mencatat’ atau ‘mendokumentasikan’.

Ternyata, menulis adalah tugas ‘ketiga’ kita setelah membaca sebagai tugas ‘pertama’ dan beramal sebagai tugas ‘kedua’.
Untuk ‘membaca’, insya Allah akan saya tulis tersendiri. Untuk ‘beramal’, ‘bacaan’ saya berhipotesis bahwa kita itu ‘pelayan’ (lihat QS 2: 30 dan 51: 56), sebagaimana ‘puisi’ saya berikut:

#pelayan
kita itu pelayan
datangi yang butuh, kita khalifah
akrabi Yang tidak butuh, kita ‘abdullah
20160418

(Mohon ditambah atau dikoreksi esai ini, terima kasih) karena saya ‘menemukan’, misalnya, QS 45: 29, yakni Tuhan telah menyuruh untuk mencatat apa yang telah kita kerjakan.

Kerja mencatat atau menulis tentu ada prosedur. Di dunia terbatas, seperti di dunia akademik, tentu ada konvensi ilmiah; di dunia popular, sebutlah di media massa, tentu ada persyaratan ‘kurlok’ (kurikulum lokal), namun intinya adalah komunikatif.
Meski di dunia popular, hendaknya tulisan kita itu ‘bernas’ (dapat dipercaya). Minimalnya, menulislah sungguh-sungguh alias dengan hati; jangan ‘asnul' (asal nulis) karena akan mengundang polemik; baguslah kalau sekadar ‘perang pena’. Mari kita bandingkan, misalnya, dengan karya orientalis yang melakukan penelitian partisipatoris hingga puluhan tahun; sebutlah Clifford Geertz yang menulis Religion of Java. Meskipun akhirnya mengundang polemik, tapi fakta dia telah melakukan penelitian.

Mungkin, yang adil -- minimal ‘ilmiah’ -- adalah bahwa apa yang ditulis itu telah kita konfirmasi kepada pihak pro dan pihak kontra; sedangkan kita, penulis, hendaknya netral; atau bahasa ‘formal’-nya, pembaca pun punya hak jawab jika apa yang ditulis itu tidak sesuai perspektifnya.
Di sini, saya ingin mengingatkan kepada sesama ‘penulis’. Kita itu terkena juga ayat Quran, “(Itu) sangatlah dibenci (kabura maqtan) di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” (QS 61: 3).
Atau sebagaimana Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri (1993), bilang bahwa ‘penyair’ ialah penjaga taman kata-kata dan pendamba kearifan (mari kita renungkan maksud QS 26: 221, 224, 225, dan 227 … mengapa ada Quran surat “Para Penyair” [26: 227 ayat]?).
Ya, saya ingin mengatakan bahwa penulis ialah penyair dan apa yang ditulis adalah ‘puitis’ (silakan cek etimologi ‘sastra’ atau ‘puisi’ dst); serta, kalau bisa, setiap 1 kata = 1 fakta; hatta 1 huruf atau 1 angka. Semoga, aamiin.

Kutipan
Buat yang mau menulis, di bawah ini, saya share kutipan yang menstimulan saya untuk menulis.

pernah bibir pecah ditinju
tulang rusuk jadi mainan tumit sepatu
tapi tak bisa mereka meremuk: kata-kataku!
(Wiji Thukul, “Maklumat Penyair”, 1993)

“Tahu mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari …” (Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia, 1980)

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian” (Pramoedya Ananta Toer, Sumber: silakan googling).

Jangan menulis seperti mengobrol, karena tidak akan sistematis.
Jangan ceramah seperti menulis, hal itu akan membosankan.
(Jalaluddin Rakhmat via status FB: Enton Supriyatna Sind, 201509)

Beberapa Kiat Menulis
Di bawah ini, saya share beberapa komentar saya yang pernah dimuat di dua grup FB, semoga bermanfaat dan mempercepat untuk menulis apa-apa yang pernah kita kerjakan:

Ada 2 member yang memberi 2 buku kpd sy: Komposisi karya Gorys Keraf dan Teori Sastra karya Rene Wellek dan Austin Warren (terjemahan). WOW, kedua buku itu berpengaruh besar bagi kebahasaan-kepenulisan sy. Singkat cerita, kedua buku itu ‘memancing’ & ‘menajamkan’ pengetahuan soal KETERAMPILAN BAHASA sy tuk Mendengar, Berbicara, Membaca, Menulis, dan Menerjemahkan. Terima kasih 2 sob yang sy anonim-kan …, maka sy pun ingin berbagi seperti ke-2 sob itu dengan apa yang sy ingat/tahu … soal jimat ngapung (azimat terbang) menjadi penulis (silakan download):
#http://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2016/01/salinan-permendikbud-nomor-50-tahun-2015-tentang-pedoman-umum-ejaan-bahasa-indonesia .
#http://ebsoft.web.id/tag/kbbi-offline/ .
*sy berutang budi kpd kata: definisi, apresiasi, religiositas, …

#kamus
konon, etimologi ‘kamus’ dari ‘okeanus’ (Yunani: lautan; Inggris: ocean, tapi untuk kamus jadi ‘dictionary’, ‘lexicon’) oleh orang Arab dibaca ‘qaamus’; oleh KITA: ‘kamus’, menurut KBBI, adalah buku acuan yang memuat kata dan ungkapan, biasanya disusun menurut abjad berikut keterangan tentang makna, pemakaian, atau terjemahannya … konon, lagi, ‘kamus’ itu berarti lautan kata, bahkan kumpulan grand theory (teori umum) karena menjelaskan secara umum tentang satu kata/lema/entri dan disepakati secara umum pula (lihatlah penyusun KBBI itu ialah para pakar di bidangnya masing2). jenis2 kamus seperti yang ‘tipis’: kamus istilah atau glosarium; yang ‘tebal’: tesaurus dan ensiklopedia … sy kelimpungan jika MENULIS tanpa kamus. MUNGKIN, kamus adalah salah satu alat perang yang WAJIB bagi para penulis … dan pesaing terberatnya ialah Mbah Gugel !!

#penulisan … mari saling ingatkan ya …
secara morfologis/etimologis, nulis ‘sekedar’ tidak tepat karena kata dasarnya ‘kadar’. jadi, yang benar ‘sekadar’ … contoh yang lain, sy lebih suka menulis ‘popular’ daripada ‘populer’ … tapi KBBI pun nyantumin ‘populer’, ya sutra … sy keukeuh ‘popular’ … yang ‘sekedar’ pun boleh = asal komunikatif. namun, nanti, di arena ‘ilmiah’, KITA kudu taat konvensi … CENAH (Sunda: katanya), trims

#share kiat menulis karya ilmiah TA (Tugas Akhir):
1.    setiap perguruan tinggi (PT) mengeluarkan aturan/buku Pedoman Penyusunan Skripsi, Tesis, dan Disertasi. baca & fahami sehingga langkah kita pede karena kita jadi tahu proses & rute-nya ...
2.    adanya karya TA dilatarbelakangi oleh kewajiban dari pihak PT ke mahasiswa (objektif: misalnya, syarat memperoleh gelar) dan subjektif: masalah concern (perhatian sekaligus keprihatinan) mahasiswa/ peneliti. silakan pilih, mau penelitian lapangan atau literatur …
3.    karya ilmiah Skripsi, Tesis, dan Disertasi itu GAMPANG kalo dikerjakan karena sudah ada konvensi (ketentuan/sistem) ilmiah-nya … berarti yang disebut ‘masalah’ itu adalah tidak fokus alias MALAS ... cag (bersambung, semoga sob2 lain berkenan menambah … atau memangkas yang ‘3’ ini, hehe, trims)
4.    (?) penelitian = dunia teliti; peneliti = orang teliti …
5.    (?) sikap ilmiah, salah satunya, adalah menerima yang baru dan yang lebih benar karena ilmiah = dinamis …

wah, apa yg sy tulis ternyata bukan puisi, meski ada istilah ‘puisi bebas’ atau ‘puisi mbeling’. bagi sy, ‘puisi’ itu ‘putik berisi’ atau ‘pesan untuk situasi’. mungkin, lebih tepatnya sekadar ‘catatan harian’. ketika sy menulis catatan harian, ada semacam katarsis; ada semacam ‘telah melaksanakan tugas’ sebagaimana lagu “Hua Ha Ha!” (Iwan Fals-Dalbo): Bukalah mulut kamu/ Lantangkan saja suaramu/ Bebaskan jiwa kamu/ Tidak apa-apa dianggap gila/ Daripada tak bisa …/ Tertawa itu sehat/ Menipu itu jahat dan lagu “Air Mata Api” (Iwan Fals): … Nyanyikan tangis, marah, dan cinta … nah, mungkin lagi, di arena ilmiah, puisi dg filsafat bertemu di ‘diksi’ = kebenaran adalah kesederhanaan ... warning: terbiasa ber-‘puisi’ (memadatkan kata), justru melemahkan ber-‘prosa’ (mengembangkan kata) … hajeuh … kumaha (bagaimana) atuh??

Ada seorang member yang komen: “Sebenarnya saya kepingin sekali menulis sesuatu lalu dikirimkan, tapi saya masih kurang pede, Kang.”
Saya komen balik: hehe, sebenarnya sob tlah menuliskan sesuatu + pede ngirim; ini buktinya: ‘komen’ … kata sy: MARI BELAJAR BERSAMA MENULIS, MARI LOMBA TAKTIKTUK; nda ada kok yg langsung jago & nda ada yg jago semua; semua belajar dulu; semua nulis apa dulu + semua apa ditulis dulu; apakah sy berbohong? di grup ini, banyak Saksi Hidup perkembangan menulis sy + di post2 sy seperti kata NYONTEK, sy belum kirim cerpen, … itu bener: sampai 2 hari sy bolak-balik baca puisi karya sob LM … nulis cerpen? hajeuh, sy kudu buca-baca apalah2 … adilnya, mungkin: untuk menjadi penulis, KITA kudu jadi pembaca dulu; untuk jadi pemain, KITA kudu jadi penonton dulu; tapi JANGAN KELAMAAN menjadi penulis/pembaca krn keduanya hrs ‘saling’ menulis/membaca lagi; krn roda kehidupan terus berputar; krn tak ada gading yg tak retak … sy yakin, sob lebih mafhum soal ora et labora itu, hatur nuhun, sob, parantos diemutan (terima kasih, sob, telah diingatkan) …

Bandung, 20160511, 16.57.

Sumber foto: google/alat tulis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar