Balad OMO

Kamis, 23 Juni 2016

kutipan yang saya ingat



bkkbn : bonus demografi; usia kerja melimpah, lapangan kerja sempit.
kpk : gratifikasi itu korupsi, parsel lebaran pun!
Ombudsman : menerima laporan atas dugaan maladministrasi dalam penyelenggaraan pelayanan publik.
bnn : setiap hari di RI ini 50 nyawa mati sia-sia karena narkoba!
... (bersambung).

Rabu, 22 Juni 2016

Jakarta






















HBD Jakarta, ibukotaku ...
Siapa Suruh Datang Jakarta (Koes Plus)
Jakarta (Iwan Fals): "Musim kemarau kebakaran, musim hujan banjir ...!"
"Ei, ati-ati kompor meleduk!" (Bang BS)
...
22 Juni: Hari Ulang Tahun Kota Jakarta (sejak tahun 1527)



#seiring

Siapa yang atur penempatan PNS/ASN dan Polri/TNI: BKN, Menpan RB, atau Kemendagri? Coba diatur sesuai KTP, atau bagusnya sesuai TTL bersangkutan. Karena sinkron dengan #semangat_otda serta ekuivalen tidak hanya dengan #sense of belonging, tetapi terutama dengan sense of crisis dan responsibility … Ada kata #semangat, ada kata #fokus, ada kata #murah_meriah kerja jika PNS/ASN dan Polri/TNI itu bekerja sesuai KTP atau TTL-nya. Mengapa dibikin repot, Kawan?

Jangan omong ‘nasionalisme’ atawa ‘ikhlas beramal’, coba Ente yang ngalamin! Namun, jika alokasi terpaksa dilakukan a.n. memenuhi kuota/ratio: boleh-lah, ini pun dengan catatan: (1) diberi kompensasi gaji/honor-tunjangan/fasilitas dilebihkan/diistimewakan dan (2) bertugas hanya dalam hitungan maksimal 3 – 6 bulan seraya dipersiapkan pergantian petugas dari putra pribumi/daerah.

Nah, seiring membludaknya penduduk di Jawa, #teladan Nasionalis atau Penggagas Otda itu sendiri eloknya #balik_kampung … Kalo bukan oleh Ente, oleh siape lagi; kalo bukan skarang, kapan lagi?

Aku masih berpikir Indonesia itu Bangsa-Negara besar dengan SDM dan SDA yang berlimpah, #Indonesia_itu_kaya_raya, demikian kata Ibu Guru SD-ku. Ya, #desentralisasi itu solusi.



Edit@20170723, 20.43

Selasa, 21 Juni 2016

Butir















apa kabar kawan
sudahkah menanam
bagaimana panenmu

bisa dibilang kita senasib
panen melimpah, harga murah
musim paceklik, leher tercekik

kita juga satu identitas
buruh huruf, tani tanah
setiap butir harus bermakna
pun entitas kita
al-muhibbu liwathanihi
(pencinta tanah-air)
huruf dan tanah harus dihidupkan
bukan untuk Tuhan, untuk kita kok
memang perkenan tuan tanah lah
pasti, si ijon spekulan wara-wiri
ter la lu jika rasa jadi komoditas
ekspor mentah, impor sampah
ironi gemah ripah loh jinawi
idem dunia sastra

mungkin, swadesi jadi solusi
citizen journalism jadi trendi
untuk swasembada, untuk HKI

met bermimpi, petani, eh, berkreasi!

bdg, 20160621, 20.45
cq. 21 Juni: #Hari_Krida_Pertanian

Sumber foto: google/butir/herizalwi.blogspot.com
(saya tambah "A1M5Z0" = awal-tengah-akhir huruf & angka).
@20160924 = Hari Tani, kutanya: ke mana tembakau?

Pak, Kenapa Puasa?



#belajar_menjawab_pertanyaan_anak
 
Anak perempuan semata wayangku baru berusia dua tahun, namun ia mulai kebingungan: kenapa bapak-ibunya tidak ikut makan-minum? Tidak seperti biasanya ketika ia makan-minum.
Tulisan ini dipersiapkan untuk menjawab pertanyaannya, mungkin ketika ia bertanya di usia empat tahun: “Kenapa tidak ikut makan-minum, Pak?”
Nak, bapak-ibumu sedang ‘puasa’ selama sebulan di bulan Ramadan. Puasa ini diharuskan bagi yang sudah gede. Kalau anak perempuan mulai usia sembilan tahun, kalau anak laki mulai 15 tahun. Puasa itu menahan lapar dan haus sejak sebelum adzan subuh hingga setelah adzan maghrib. Makanya, kamu lihat bapak-ibumu makan-minum di dini hari, itu namanya ‘sahur’ dan  makan-minum lagi ketika adzan maghrib, itu namanya ‘buka puasa’.
“Kok, anak laki mulai 15 tahun?”
Itu ajaran agama kita. Karena anak perempuan dianggap sudah gede apabila sudah berusia sembilan tahun; sedangkan anak laki jika sudah berusia 15 tahun. Nanti Bapak kasih tahu lagi ya kalau kamu sudah sembilan tahun!
Meski baru empat tahun, kamu mulai belajar puasa ya, apalagi kamu sudah sekolah di PAUD. Malu dong sama teman-temanmu.
Nak, mengapa bapak-ibumu berpuasa? Karena diwajibkan agama kita, apalagi bapak-ibumu telah gede sejak lama. Puasanya tidak sekadar menahan lapar dan haus selama kurang/lebih 14 jam kalau di Indonesia, masih banyak larangan lain selain menahan lapar dan haus, kelak kamu tahu.
Dengan melaksanakan puasa ini agar kita menjadi manusia yang bertakwa. Takwa itu taat melaksanakan perintah Tuhan dan menjauhi segala larangan-Nya, yakni agar kita menjadi manusia yang baik. Nanti, di akhir bulan Ramadan, kita pun diharuskan zakat fitrah, yakni memberi makanan pokok sehari-hari kita seperti beras untuk orang miskin. Puasa di bulan Ramadan ini menjadikan kita sebagai manusia yang baik bagi kita sendiri sekaligus bagi orang lain.
Coba kamu puasa. Ikut sahur ya nanti. Cobalah puasa sampai jam sembilan pagi. Kalau kuat, teruskan sampai jam 12; atau kalau lapar, bukalah, makan-minumlah. Besoknya, ikut sahur lagi ya dan cobalah puasa lagi.
Nah, gimana? Puasa itu lapar dan haus kan? Ya, Nak, puasa itu menahan lapar dan haus. Justru kamu harus bersyukur karena lapar-haus kamu cuma beberapa jam, sedangkan mereka, orang-orang miskin itu ada yang tidak makan sampai berhari-hari; atau ada yang makan hanya dengan garam saja, bahkan nasinya pun sudah basi dan berbau apak.
Itulah, Nak, maksud diwajibkan puasa agar kamu bersyukur, berterima kasih atas segala pemberian Tuhan; dan dengan lapar, kamu jadi tahu bahwa masih banyak saudara kita, kawan kita yang masih kelaparan sehingga kamu mau berbagi.
Lapar mengajarmu rendah hati selalu, Nak. Dengarlah lagu Bimbo: “Ada Anak Bertanya pada Bapaknya” yang dicipta Bapak Taufiq Ismail …



Bandung, 20160618, 04.06.

OMO cs

ya, bahaya!
be careful, brobay ...