Balad OMO

Jumat, 17 Juni 2016

Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya

Tulisan ini mencoba-ingat-angkat pelajaran yang didapat waktu saya SD, 32-38 tahun yang lalu.
Pertama, frasa ‘Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya’ adalah penggalan lagu kebangsaan kita, “Indonesia Raya” ciptaan WR Supratman. Frasa ini digemakan lagi oleh Jokowi-JK ketika mereka ikutan pilpres 2014. Mereka menang dan jadi RI1 dan RI2. Saya diingatkan kembali dan saya melihat, kok, ‘Bangunlah Badannya’ dulu ya? Sedangkan untuk ‘Bangunlah Jiwanya’, saya baru mendengar Rp 149 miliar; konon, untuk biaya Revolusi Mental (RM). Sungguh anggaran belanja yang minim dari APBN dan mental siapa ya yang harus direvolusi? RM ini dan Nawa Cita (lihat foto) menjadi visi dan misi Jokowi-JK saat kampanye pilpres itu.



















Kedua, ‘politik mercusuar’. Dulu, di zaman Bung Karno sebagai RI1, proyek masjid Istiqlal, Istora Senayan (Gelora Bung Karno), dan Monas dianggap proyek ‘tak tahu diri’, proyek ‘menara gading’, politik terang ke luar, gelap ke dalam …, meski Istiqlal, GBK dan Monas, kini, dianggap masterpiece, kebanggaan-identitas nasional. Sebagai warga Kota Bandung, saya menyaksikan Ridwan Kamil (Emil), Ahmad Heryawan (Aher), dan Joko Widodo (Jokowi) pun seperti ingin mengikuti jejak Bung Karno.

Ketiga, ‘devide et impera’ adalah BJ (Bapak Jokowi) apabila berhasil ‘mengadu-domba’ kapitalis junior (Rusia) dengan kapitalis senior (AS) soal membeli alat perang itu. Kalau perlu, ‘obok-obok’ juga kelompok G7, BJ, karena ternyata imperialisme itu bukan hanya bidang militer, ekonomi juga, dan kita adalah konsumen menggiurkan justru harus kita manfaatkan; giliran kita yang harus jaim setelah dumping segala produk SDA kita; setelah kurs kita ‘dijajah’ yang seharusnya kita usung sebagai pelanggaran HAM karena mengapa ada 1 Euro dan mengapa si poundsterling itu paling mahal? Jadi rindu BJ berpidato: “Amerika kita setrika, Inggris kita linggis …!”

"Aku tidak menyuruh REVOLUSI; aku sekadar mengingatkan: Apakah pembangunan itu selalu meminta korban; menunggu korban dari KITA dulu ... berjatuhan, berguguran ...? Di era kini, lebih tepat jika maksud Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya diidentikkan dengan kata 'PEMBINAAN' daripada kata 'pembangunan'. Mungkin, lebih terdengar lembut, akrab, atau tidak arogan!"


Wah, lali (lupa) lagi pelajaran SD. Beginilah kalau tidak pernah rangking dulu (cf. di Finlandia, tidak ada rangking karena semua murid adalah rangking ke-1). Seingat saya, pernahlah rangking ke-7 dari 50 murid di kelas. Heuheu, rangking ke-7 memang tidak otoritatif-representatif, tapi marilah bermimpi. Ya, dreamer ini mengajak bermimpi semoga bukan obsesi dan jadi kenyataan. Kalau tak sekarang, kapan lagi? Atau smoga di zaman anak-cucu-lah bangsa dan negeri kita bangkit dan maju, aamiin:

Aku Bermimpi, maka Terjadi

Aku ingin bermimpi
Lahir dan mati di negeri sendiri
Kehadiranku diingini
Ketiadaanku ditangisi
Lalu aku hidup-menghidupi
Hidup yang abadi
Di jasmani, di rohani
Di duniawi, di ukhrawi
Saling menggenggam insani
Dalam pelukan Ilahi

Sebagai rakyat, aku sepakat
Kamu aparat, aku berkhidmat
Sebagai tuan, aku keramat
Kamu komandan, aku taat
Masak pelayan dilayani majikan!
Masih bingung siapa pelayan/majikan?

Kong Hu Cu yang ajarkan
Abdi direkrut karena mampu dan ihsan
Pun Umar bin Khathab amalkan
Boleh nepotis, asal ada dua patokan
Di bumi ini, kemampuan dan kebajikan
Adalah jalan keabadian
Kata kuncinya: kesempatan
Inilah maksud rotasi bumi sebagai pelajaran
Keabadian ekuivalen dengan bergiliran
Terus berputar yang terjadi keausan
Bergantianlah, maka peremajaan
Naif, jika lo lagi lo lagi sebagai terjemahan
Karena sejatinya kita ialah pelayan:
Abdullah sebagai pelayan Tuhan dan
Khalifah sebagai pelayan ciptaan Tuhan

Jangan bangunkan aku, wahai pertiwi!
Mimpiku ini smoga bukan obsesi
Duh Gusti, bolehkah kita bernegosiasi:
Aku bermimpi, maka terjadi?!

Bandung, 20160614, adzan maghrib




Cq. “Teach Me How To Dream” (lagu Robin McAuley) atau lanjutkan mimpiku ke tahun 2035, Tuhan, ke zaman robot melayani manusia sebagaimana film “I, Robot” (rilis: Juli 2004; aktor utama: Will Smith; penulis: Jeff Vintar ternyata diilhami karya Agatha Christie). Di tahun ini, anakku kan bersaing dengan robot di dunia kerja; atau semestinya: kegiatan anakku dilayani robot!
O, terlalu mahal cipta dunia robot! OK, bikinlah software: program-program yang mempermudah kegiatan Rakyat; mudah diakses; murah-meriah biaya dan waktu. Aku akui, kini, telah dirintis seperti dengan Pelayanan Satu Atap. Maksudku, mari minimalisasi pengeluaran biaya dan waktu tak produktif (konsumtif). Rasionalisasi PNS/ASN terus dievaluasi. Nanti, tinggal segelintir; mending anggaran belanja untuk Bangunlah Jiwanya (cipta Rakyat kreatif, Rakyat profesional) kemudian Bangunlah Badannya (infrastruktur …) daripada anggaran belanja dominan konsumtif untuk Pegawai …
Kantor2 itu, gedung2 itu, aset2 itu, serah-gilirkan ke Rakyat sebagai rumah kreasi, modal produksi. Insya Allah, Rakyat dan negeri ini bangkit-maju … Mari MUSYAWARAH lagi tuk membangun RI seperti tahun2 sebelum ada komputer atawa hape—padahal gawai2 ini, seharusnya, lebih mempermudah tuk interaksi-komunikasi antara atas-bawah; antara kanan-kiri!
Hadeuh ada yang mengusik: Siapa pencipta akronim ‘pekat’ (penyakit masyarakat)? Faktanya, yang ngefek nasional ialah pekat ‘sejati’ (penyakit aparat) karena ter la lu: Sudah diberi fasilitas, tunjangan, bla bla bla, masih juga KORUPSI terus pekat itu. Ya, nakal hasil korupsi! Perlukah didata di sini?
Masih bingung juga siapa pelayan/majikan? Mari bertukar mimpi … Atau, mari kita hilangkan dikotomi pelayan : majikan menjadi ‘rekanan’ … Tapi kayaknya, mimpi kita jadi tak asyik ah … Nanti, saling ndak mau; saling ingin ini-ingin itu; terutama Rakyat = orang kebanyakan jadi tak bisa bermimpi … Masih tega juga mau merebut mimpinya? Tetaplah menjadi Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif – jangan jadi THIEF; menjadilah pelayan Rakyat; tinggal melayani Rakyat; pasti, Rakyat kan berkhidmat-taat kepada kalian! Percayalah … Terima kasih, tidak bangunkan aku.

NB: #pns (baca: abdi Negara) itu yang digaji rakyat, baik sipil (jalur karir atau politik), setengah sipil (bumn), militer, atau setengah militer (polisi).
 

Silaturahmi itu Solusi
Ya, Kang Emil, Kang Aher, dan Mas Jokowi, saya ingin bermimpi dan jangan dibangunkan ... (Addendum: ketua RT/RW, sebagai ujung tombak kalian, jangan digaji karena jabatan RT/RW merupakan jabatan sukarela dan penghormatan masyarakat setempat yang sudah saling kenal. Namun ketua RT/RW mendapat fasilitas dan prioritas dari kegiatan/program Pemerintah yang harus segera diterima warga seperti program diklat/workshop atau modal usaha. Juga mohon disediakan media curhat karena banyak RT/RW nakal seperti mendahulukan kepentingan keluarganya dan ‘bisnis’ jabatannya).
Selain perihidup berbangsa dan bernegara seperti tercermin dalam puisi di atas, saya pun mencatat bahwa perihidup bermasyarakat kita sungguh memprihatinkan. Topik tren negeri kita perkosa-perkosaan, bunuh-pembunuhan … Wah, sungguh tren negeri yang mengerikan; apakah sebentar lagi anak-anak kita ngikutin tren anak-anak sekolah Amrik yang main senpi (senjata api) hingga puluhan nyawa melayang dalam seketika? Na’uudzubillaahimindzaalik!
Ya, Kang Emil, Kang Aher, dan Mas Jokowi, mari perankan posisi-fungsi masing-masing. Sebagai pemimpin saya, tentu lebih mafhum: mengapa terjadi dan bagaimana solusinya?
Ini puisi bocoran, meski klise untuk kalian:

Penyair ASEAN

penyair, ya, bersyair
bermain kata, semoga bermakna
petani kata, penuai kata
tentu kan diminta jawab
cepat atawa lambat

penyair membaca diri
penyair membaca di luar diri
penyair menulis diri
penyair menulis di luar diri
apalah penyair tanpa bacaan
apalah penyair tanpa pembaca
apalah penyair tanpa tulisan, bahan pembaca
apalah penyair tanpa penulis, karya pembaca
(penyair pun pembaca dan bukankah peristiwa
serta tokoh berita itu sejatinya penulis?)
ya, penyair sedang membaca karya pembaca
pembaca tak usahlah menulis
karena apalah arti penyair,
kecuali ternyata, hehe
kita sama-sama penyair, atau
memang faktanya, kita semua ialah
penyair

di sering hari, jangan bilang-bilang, ya
penyair itu nyaru jadi batman
meski bukan bill gates yang sumbang ayam
tuk entaskan kemiskinan di afrika, tapi
layaknya pengidap insomnia (baca:
jadwal tidur berubah, siang jadi malam,
malam jadi siang), penyair kan begadang
tuk entaskan kemiskinan makna
hoho, terserah jika tak terima seperti
cueknya satpol pp razia warteg di siang ramadan,
pns di mall di jam kerja, psk mahmud 4 anak,
atau kecolongannya migrant care oleh polah darsem
dan kita, pahlawan kesiangan ujug-ujug iuran
atas nama kemanusiaan; aku membaca ada
kebohongan plus kenaifan
jujurlah pada diri dan keluargamu, tentu
kan reuni; atau apa atuh fungsi rt, rw, kelurahan/
desa, kecamatan, hingga kemensos …?
jika kamu orang islam, diamlah di masjid
jika lebih dari tiga hari tak ada yang menyapamu
ratakan masjid itu, percuma!
ya, aku membaca kamu berbohong karena kalau
kamu jujur, semua menyayangimu, kita menyayangimu,
kita satu darah!
lalu mengapa jadi psk, mengapa tidak memberi
teladan yang baik, mengapa melanggar hak
orang lain, mengapa tidak bersyukur …
ya, kita pun dibodohi oleh kenaifan
namun, mari ambil hikmah: silaturahmi
ya, silaturahmi kita sebagai satu keluarga, sebagai
saudara seagama, sebagai bangsa setanah air
itu masih jelek, sungguh jelek!
memang orang kaya kan disebut kaya kalau
tidak ada orang miskin?
memang penyair kan dibilang penyair
kalau tidak ada pembaca?
hm,  silaturahmi-lah yang membuat kita abadi
monggo jika diterjemahkan sebagai status quo
karena tadi, tentu kan diminta jawab
cepat atawa lambat

jangan bilang-bilang juga, ya, penyair sering
nyambi robinhood, meski bukan bangsawan
yang itu atau seharusnya aparat-lah yang pantas jadi
robinhood karena segala tahu siapa saja yang mangkir
ke sidang tipikor, yang wanpretasi bayar pajak, yang
maladministrasi melayani publik, yang mainin harga,
yang pengen dapet untung sendiri, hingga mereka
pantas dicuri lagi!
sedangkan penyair hanya lucuti keangkuhannya,
preteli kekhilafannya, dan hanya mencuri
kearifannya meski secuil

o, ya, apa kabar, nyamuk? sahabat kemalasan nan
setia temani insomniaku

heuheu, nyamuk #MEA @15 Juni: #HariDemanBerdarahDengueASEAN

Bandung, 20160615, 21.50.

Ya, Kang Emil, Kang Aher, dan Mas Jokowi, mari bersilaturahmi. Mohon maksimalkan gawai dan media sosial—tentu jangan bilang-bilang di sini bahwa kalian suka nyaru jadi Batman atau nyambi Robinhood …

SILATURAHMI itu SOLUSI
S ambungkan
I katan
L idah,
A ksi, dan
T ekad KITA
U ntuk
R asa,
A kal, dan
H ati
M anusia
I ndonesia

S emoga
O lah-
L aku dan
U paya KITA
S esuai kehendak
I lahi, amin.

Bandung, 20151105

Ya, Kang Emil, Kang Aher, dan Mas Jokowi, mari bersilaturahmi; menjadi pionir-teladan merekatkan kembali tali-tali keluarga, agama, serta satu bangsa dan satu tanah air. Saya meyakini dari keluarga harmonislah yang akan mengutus duta-duta bangsa dan negara yang beriman sekaligus kompeten.
Mengapa harus ‘beriman’ dulu? Karena menurut pelajaran dari SD saya itu, kemerdekaan RI dinyatakan atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan sudah jelas kok bahwa kemerdekaan, UUD, dan NKRI disusun dengan dasar/sila yang pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa … (lihat Pembukaan UUD 1945, alinea ke-4). Jadi, kita harus beriman dulu, ber-Tuhan dulu, sehingga kompetensi kita dibimbing-terbimbing Tuhan. Saya kira, kompetensi/aset kita sebagai manusia tidak akan sewenang-wenang dan tidak akan menyeleweng, jika dalam bimbingan Tuhan YME. Masak Tuhan tidak tahu siapa saja yang korup atau masak Tuhan kan biarkan pemerkosa/pembunuh …?
Karena itu, Negara harus hadir dalam membangun keluarga-keluarga harmonis, meski RI bukan teokrasi, tapi disuruh konstitusi kok!. Keluarga pemimpin (aparat) harus memberi teladan yang baik bagi keluarga-keluarga rakyat agar tidak terjadi gap, kecemburuan, atau pembangkangan. Maka saya pikir, Bangunlah Jiwanya dulu, baru Bangunlah Badannya untuk Indonesia Raya!


NB: #core-nya, bagaimana meyakinkan Rakyat bahwa ia dijamin oleh Negara sebagai warga Indonesia seperti Negara kepada dirinya (= PNS: fasilitas, tunjangan, pensiun, bla bla bla) …?!
Atau mari lanjutkan mimpi lagi; mimpikan cita-cita Negara, menurut Anies Baswedan, janji Negara: (1) melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan (2) untuk memajukan kesejahteraan umum, (3) mencerdaskan kehidupan bangsa, dan (4) ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial (Pembukaan UUD 1945, alinea ke-4).
 




Terima kasih Kang Emil, Kang Aher, dan Mas Jokowi.

Bandung, 20160616, 21.06.

Rindu Ramadan




Menyambut Ramadan
Rindu Ramadan adalah dambaan kaum muslim agar setiap bulan dari 12 bulan itu bulan Ramadan. Mengapa? Karena, di Indonesia, bulan Ramadan adalah bulan keluarga. Begitu terasa sebagai satu keluarga, bahkan sebagai satu masyarakat. Dari Sahur hingga Magrib, dari Isya’ hingga selesai Tarawih, kemudian ada ‘kulbuh’ (kuliah Subuh = ceramah selesai salat Subuh berjamaah) dan ‘kultum’ (kuliah tujuh menit = ceramah sebelum shalat Tarawih berjamaah) di masjid, kita begitu intens sebagai satu keluarga dan satu masyarakat.
Ya, kebersamaan sekaligus berlomba kebajikan untuk memperoleh derajat manusia takwa (QS 2: 183).
Rasulullah SAW menyambut bulan Ramadan penuh perasaan bahagia dan suka-cita. Beliau ingatkan para sahabat agar menyiapkan diri mereka untuk menyambut dan mengisinya dengan amal. Diriwayatkan oleh Salman al-Farisi bahwa Rasulullah berceramah di hadapan para sahabat di akhir Sya’ban, beliau bersabda,
“Wahai sekalian manusia. Kalian akan dinaungi oleh bulan yang agung nan penuh berkah. Padanya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu malam. Allah menjadikan puasa di bulan itu sebagai kewajiban dan qiyam-nya sebagai perbuatan sunnah. Siapa yang mendekatkan diri kepada-Nya dengan amal kebaikan seolah-olah ia telah melakukan kewajiban di bulan lain. Dan barangsiapa melakukan kewajiban pada bulan itu maka ia seolah telah melakukan tujuh puluh kewajiban di bulan lain. Ia adalah bulan kesabaran dan kesabaran itu adalah jalan menuju surga. Ia adalah bulan keteladanan dan bulan di mana rezeki dimudahkan bagi orang mukmin. Siapa memberi buka kepada orang yang berpuasa maka ia mendapatkan ampunan atas dosa-dosanya dan lehernya diselamatkan dari api neraka. Ia juga mendapatkan pahalanya tanpa mengurangi pahala orang itu sedikit pun.” Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, tidak semua kita bisa memberi buka bagi orang puasa.” Rasulullah menjawab, “Allah memberi pahala yang sama kepada orang yang memberi buka walau sekadar kurma dan seteguk air atau seteguk air susu. Ia adalah bulan di mana permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan, dan ujungnya diselamatkannya seseorang dari neraka. Barangsiapa meringankan budaknya Allah mengampuninya dan membebaskannya dari neraka. Perbanyaklah kalian melakukan empat hal: dua hal pertama Allah rida kepada kalian, yaitu mengucapkan syahadat tiada ilah selain Allah dan meminta ampunan kepada-Nya. Sedangkan hal berikutnya adalah yang kalian pasti membutuhkannya, yaitu agar kalian meminta surga kepada Allah dan berlindung kepada-Nya dari neraka. Barangsiapa memberi minum orang berpuasa maka Allah akan memberinya minum dari telaga yang tidak akan pernah haus sampai dia masuk ke dalam surga” (HR Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).
“Ya Allah, sampaikanlah aku dengan selamat ke Ramadan, selamatkan Ramadan untukku, dan selamatkan aku hingga selesai Ramadan.”

Mengisi Ramadan
Imam Ibnu Katsir berkata, “Dalam ayat QS 2: 183, Allah Ta’ala berfirman kepada orang-orang yang beriman dan memerintahkan mereka untuk (melaksanakan ibadah) puasa, yang berarti menahan (diri) dari makan, minum dan hubungan suami-istri dengan niat ikhlas karena Allah Ta’ala (semata), karena puasa (merupakan sebab untuk mencapai) kebersihan dan kesucian jiwa, serta menghilangkan noda-noda buruk (yang mengotori hati) dan semua tingkah laku yang tercela.”
Dipertegas oleh sebuah Hadis, Dari sahabat Abu Hurairah r.a. beliau berkata, bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: “Sungguh telah datang pada kalian bulan Ramadaan, bulan yang penuh berkah, yang mana pada bulan tersebut Allah SWT mewajibkan kalian untuk berpuasa. Pada bulan itu, pintu-pintu langit dibuka, sementara pintu-pintu neraka ditutup serta setan-setan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan” (HR an-Nasa-i).
“Orang yang berpuasa akan merasakan dua kegembiraan (besar): kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika dia bertemu Allah” (HR Bukhari dan Muslim). Namun, Hadis lain menyebutkan, “Terkadang orang yang berpuasa tidak mendapatkan bagian dari puasanya kecuali lapar dan dahaga saja” (HR Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, dan al-Hakim).
Karena itu, bulan Ramadan merupakan musim kebaikan untuk melatih dan membiasakan diri memiliki sifat-sifat mulia dalam agama Islam, di antaranya sifat sabar. Sifat ini sangat agung kedudukannya dalam Islam, bahkan tanpa adanya sifat sabar berarti iman seorang hamba akan pudar. Imam Ibnul Qayyim menggambarkan hal ini dalam ucapan beliau, “Sesungguhnya (kedudukan sifat) sabar dalam keimanan (seorang hamba) adalah seperti kedudukan kepala (manusia) pada tubuhnya, kalau kepala manusia hilang maka tidak ada kehidupan bagi tubuhnya.”
Sifat yang agung ini, sangat erat kaitannya dengan puasa, bahkan puasa itu sendiri adalah termasuk kesabaran. Oleh karena itu, Rasulullah SAW dalam Hadis yang shahih menamakan bulan puasa dengan syahrush shabr (bulan kesabaran). Bahkan Allah menjadikan ganjaran pahala puasa berlipat-lipat ganda tanpa batas, sebagaimana sabda Rasulullah, “Semua amal (shaleh yang dikerjakan) manusia dilipatgandakan (pahalanya), satu kebaikan (diberi ganjaran) sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman: “Kecuali puasa (ganjarannya tidak terbatas), karena sesungguhnya puasa itu (khusus) untuk-Ku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran (kebaikan) baginya” (HR Bukhari dan Muslim).
Yang menarik, tidurnya orang puasa pun itu ibadah. Tentu tidur yang bagaimana dulu; misalnya untuk menghindari nonton acara gosip di tv atau daripada membicarakan orang lain sambil nunggu beduk Magrib. Memang, sungguh disayangkan, jika di bulan Ramadan banyak tidur karena begitu banyak rahmat dan ampunan Tuhan yang tinggal kita minta.

Mengakhiri Ramadan
Ramadan sebagai momen muhasabah atau self correction terhadap taubat dan kesucian diri (QS 2: 222), digunakan oleh umat muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan memperbanyak kesalehan indiviudal sekaligus sosial. Secara umum, Ramadan ini melatih setiap individu untuk sabar.
Imam Ibnu Rajab al-Hambali menjelaskan eratnya hubungan puasa dengan sifat sabar dalam ucapan beliau,“Sabar itu ada tiga macam: sabar dalam (melaksanakan) ketaatan kepada Allah, sabar dalam (meninggalkan) hal-hal yang diharamkan-Nya, dan sabar (dalam menghadapi) ketentuan-ketentuan-Nya yang tidak sesuai dengan keinginan (manusia). Ketiga macam sabar ini (seluruhnya) terkumpul dalam (ibadah) puasa, karena (dengan) berpuasa (kita harus) bersabar dalam (menjalankan) ketaatan kepada Allah, dan bersabar dari semua keinginan syahwat yang diharamkan-Nya bagi orang yang berpuasa, serta bersabar dalam (menghadapi) beratnya (rasa) lapar, haus, dan lemahnya badan yang dialami orang yang berpuasa.”
Sebagaimana telah disebut Hadis (HR Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban), di sini kita pertanyakan: Mengapa sepuluh hari pertama bulan Ramadan itu penuh rahmat; sepuluh hari kedua penuh ampunan; dan sepuluh hari terakhir Ramadan itu dibebaskan dari api neraka? Tentu bukan sekadar pahala yang kita kejar, tapi tentu hikmah di balik maksud Hadis tersebut yang ingin kita raih pula.
Menjelang akhir Ramadan, Nabi Muhammad SAW semakin mempergiat diri dan keluarganya beribadah kepada Allah SWT, sebagaimana riwayat Abu Dawud, “Apabila memasuki sepuluh hari terakhir Ramadan, Nabi SAW menghidupkan malam-malamnya, mengencangkan ikat pinggangnya, dan membangunkan keluarganya.”
Disebutkan dalam sejarah, banyak ulama yang mengkhatamkan Quran sebanyak puluhan kali. Misalnya Imam Syafi’i, dalam 30 hari Ramadan itu, beliau khatam Quran sebanyak 60 kali!
Mengakhiri Ramadan seakan menjadi ‘tabu’ bagi kaum muslim yang mukmin karena begitu banyak pahala dan hikmah dari Tuhan yang tidak akan didapat di bulan-bulan lain. Hal ini didokumentasikan dalam puisi Taufiq Ismail dan dinyanyikan oleh Bimbo: “ … Umur hamba di tahun depan, berilah hamba kesempatan …”
Tradisi dan ritual Ramadan di Indonesia (khususnya di Jawa) ini pun telah diteliti oleh Andre Moller dalam disertasinya di Swedia, Ramadan in Java. Hasil penelitian ini lebih memudahkan untuk memahami dan menunaikan ibadah Ramadan yang kaya dengan ibadah ritual dan kemanusiaannya.
Ramadan adalah bulan yang sangat istimewa, mengesankan, dan turut membekas dalam diri setiap pribadi muslim yang disadari atau tidak, Ramadan telah mempunyai saham bagi terbentuknya karakter dasar dalam diri dan komunitas sosial lingkungannya (ditutup dengan melaksanakan zakat fitrah).
Bagi kita, generasi yang dulu jadi anak dan kini jadi orangtua, tentu akan merindukan Ramadan yang penuh dengan aktivitas ritual dan kemanusiaan yang memposisikan diri kita sebagai manusia yang dibutuhkan manusia lain daripada mendapat baju baru atau tradisi mudik yang berhimpitan itu.
Apakah kerinduan ini hanya kenangan kini?

(Dihimpun dari berbagai sumber online).

Bandung, 20160524.

Membaca



Rehal di Kobong















Menurut KBBI, ba·ca v, mem·ba·ca v 1 melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati): dia jangan diganggu, karena sedang -- buku; 2 mengeja atau melafalkan apa yang tertulis; 3 mengucapkan: -- doa, -- mantra; 4 mengetahui; meramalkan: ia dapat -- suratan tangan (garis-garis pada telapak tangan); dan 5 memperhitungkan; memahami: seorang pemain yang baik harus pandai -- permainan lawan.

Menurut ‘pemahaman’ hasil kutap-kutip -- mohon maaf, sumber tak terlacak karena file jadul, terakhir tahun 1997-an -- saya, ‘membaca’ itu menerjemahkan dan memaknai. Tujuan menerjemahkan adalah hapal, memaknai adalah paham.

Misalkan membaca puisi, Mursal Esten (1995) memberikan 10 (sepuluh) petunjuk dalam memahami puisi, yaitu: (1) perhatikanlah judulnya; (2) lihat kata-kata yang dominan; (3) selami makna konotatif bahasa puisi; (4) cari makna yang sesuai dengan struktur bahasa dalam larik atau bait puisi; (5) prosakanlah (parafrasakanlah) untuk menangkap pikiran (maksud) di dalam puisi.

Kemudian (6) usut siapa yang dimaksud kata ganti dan siapa yang mengucapkan kalimat; (7) temukan pertalian makna antara unit (larik dengan larik, bait dengan bait); (8) cari dan kejar makna yang tersembunyi dengan konsentrasi dan intensifikasi; (9) perhatikan corak sebuah sajak (mementingkan unsur formal atau puitis?); serta (10) hasil tafsiran harus berdasarkan teks dan harus bisa dikembalikan kepada teks yang menjadi sumber tafsiran (tunjukkan mana kata, larik, atau bait).

Ditambahkan Maung Sastra Bandung, Saini KM (1993), dalam peristiwa ‘membaca’ itu telah melibatkan berbagai pihak, di antaranya apresiator (pembaca), kreator (penyair), dan kritikus (teoretisi). Membaca ‘puisi’, selain membaca kata, tanda, atau simbol (semiotis), adalah melihat sebuah sikap dalam menentukan pilihan kebenaran. Hakikat kebenaran yang dicari itu direfleksikan kembali melalui medium bahasa (hermeneutis).

Membaca merupakan salah satu ‘keterampilan berbahasa’ selain mendengar, berbicara, menulis, atau menerjemahkan.


Tugas Pertama Kita
Ternyata membaca adalah ‘tugas pertama’ kita. Ilham ini saya dapat dari wahyu pertama Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, yaitu kelima ayat pertama dari QS al-‘Alaq (Segumpal Darah)/96: 1-5,
1.    Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
2.    Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3.    Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia,
4.    Yang mengajar (manusia) dengan perantaran pena (qalam, tulis-baca).
5.    Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

‘Bacalah’ (iqra’) ini berarti kata perintah untuk membaca. Menurut M. Quraish Shihab, iqra mempunyai persamaan arti dengan kata menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-ciri sesuatu, dan sebagainya, yang semuanya bisa dikembalikan kepada hakikat ‘menghimpun’.

Menurut Yusuf Qardhawi, kata iqra secara etimologi berarti membaca huruf-huruf yang tertulis dalam buku-buku. Sedangkan secara terminologi, yakni membaca dalam arti yang lebih luas. Maksudnya membaca alam semesta (ayat al-kaun).

Sedangkan menurut al-Maraghi sebagaimana dikutip Abuddin Nata dalam bukunya yang berjudul Tafsir Ayat-ayat Pendidikan, kata iqra dalam QS al-‘Alaq ayat 1 dapat diartikan “Jadilah engkau (Muhammad) seorang yang pandai membaca berkat kekuasaan dan kehendak Allah yang telah menciptakanmu, walaupun sebelumnya engkau tidak dapat melakukannya.” Menurut al-Maraghi pula, pengulangan kata iqra pada QS al-‘Alaq ayat 3 didasarkan pada alasan bahwa membaca itu tidak akan membekas dalam jiwa kecuali dengan diulang-ulang dan membiasakannya sebagaimana dalam tradisi. Perintah Tuhan untuk mengulang-membaca berarti pula mengulangi apa yang dibaca. Dengan cara demikian bacaan tersebut menjadi milik orang membacanya. Kata iqra mengandung arti yang amat luas, seperti mengenali, mengidentifikasi, mengklasifikasi, membandingkan, menganalisa, menyimpulkan, dan membuktikan (beberapa pendapat di atas dikutip dari Diana Mella Yussafina, Sumber: http://tafsirfalsafi.blogspot.co.id/2012/11/falsafah-iqra.html, Akses: 16/5/2016).

Hal senada dinyatakan seorang dosen, dulu (1990-an), yang menerjemahkan iqra dengan ‘recite’, yakni membaca secara berulang. Menurut KBBI Online, recite berarti menceritakan atau menghafalkan (Sumber: http://www.kamuskbbi.id/inggris/indonesia.php?mod=view&recite&id=26691-kamus-inggris-indonesia.html, Akses: 16/5/2016).

Anehnya, Nabi Muhammad SAW itu al-ummiyyi (tidak bisa baca-tulis; lihat QS 7: 158).
Mari, kita ikuti uraian Muhammad Abduh Tuasikal, Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul, Pengasuh Rumaysho.Com, dan Penasihat Muslim.Or.Id., yang mengawali tulisannya dengan alinea: … dengan perintah ‘membaca’, dapat diketahui perintah dan larangan Allah. Jadi, manusia bukanlah dicipta begitu saja di dunia, namun ia juga diperintah dan dilarang.

Ketika Nabi SAW menerima wahyu pertama itu, beliau tidak tahu tulis-menulis dan tidak mengerti tentang iman. Lantas, Jibril datang dengan membawa risalah atau wahyu dan memerintahkan Nabi untuk membacanya. Nabi enggan dan berkata, “Maa anaa biqaarii” (aku tidak bisa membaca, HR Bukhari No. 3). Beliau terus mengatakan seperti itu sampai akhirnya beliau membacanya. Kemudian turunlah ayat, Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan (versi Al-Qur’an dan Terjemahnya, Kemenag, 2010: 904, Bacalah dengan [menyebut] nama Tuhanmu Yang menciptakan). Yang dimaksud ‘menciptakan’ di sini adalah menciptakan makhluk secara umum. Tetapi yang dimaksudkan secara khusus di sini adalah manusia. Manusia diciptakan dari segumpal darah sebagaimana disebut dalam ayat selanjutnya, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

Manusia bukan hanya dicipta, namun ia juga diperintah dan dilarang. Untuk menjelaskan perintah dan larangan ini diutuslah Rasul dan diturunkanlah Al-Kitab (Quran). Oleh karena itu, setelah menceritakan perintah untuk membaca disebutkan mengenai penciptaan manusia.
Setelah itu, Allah memerintahkan, Bacalah, dan Rabbmulah Yang Maha Pemurah (versi Al-Qur’an dan Terjemahnya, Kemenag, 2010: 904, Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia). Disebutkan bahwa Allah memiliki sifat pemurah yang luas dan karunia-Nya yang besar pada makhluk-Nya. Di antara bentuk karunia Allah pada manusia, kata Syaikh as-Sa’di rahimahullaah, adalah Dia mengajarkan ilmu pada manusia sebagaimana disebutkan dalam ayat selanjutnya, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qalam (pena). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Kata Syaikh as-Sa’di rahimahullaah, “Manusia dikeluarkan dari perut ibunya ketika lahir tidak mengetahui apa-apa. Lalu Allah menjadikan baginya penglihatan dan pendengaran serta hati sebagai jalan untuk mendapatkan ilmu” (Taisiri al-Karimir-Rahmaan, hlm. 930).

Allah mengajarkan pada manusia Quran dan mengajarkan padanya hikmah, yaitu ilmu. Allah mengajarkannya dengan qalam (pena) yang bisa membuat ilmunya semakin lekat. Allah pun mengutus Rasul supaya bisa menjelaskan pada mereka. Alhamdulillaah, atas berbagai nikmat ini yang sulit dibalas dan disyukuri (Sumber: https://rumaysho.com/3505-tafsir-surat-iqro-1-bacalah-dan-bacalah.html, Akses: 16/5/2016).

Lantas, bagaimana membaca diri atau membaca zaman, dan apa manfaatnya? Dalam ‘mikrokosmos’ (jagat atau dunia kecil, khususnya manusia dan sifat kemanusiaan yang merupakan contoh dalam ukuran kecil dari alam semesta), profesi yang mumpuni perihal diri, secara ‘sederhana’, ialah psikolog (ahli jiwa) dan dokter (ahli pengobatan raga); sedangkan profesi yang kompeten perihal zaman, dalam arti manusia dengan interaksinya, ialah antropolog, sosiolog, ekonom, atau politikus. Adapun profesi yang mumpuni keduanya ialah agamawan dan budayawan. Dulu, masyarakat menyebutnya ‘guru’ karena dianggap manusia segala tahu, bisa, dan punya sekaligus dapat ‘digugu-ditiru’.

Untuk guru ‘kini’, mari kita renungkan ‘bacaan’ Gus Mus, K.H.A. Mustofa Bisri, pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Thalibin, Rembang, Jawa Tengah,

GURUKU
Ketika aku kecil dan menjadi muridnya
Dialah di mataku orang terbesar dan terpintar
Ketika aku besar dan menjadi pintar
Kulihat dia begitu kecil dan lugu
Aku menghargainya dulu
Karena tak tahu harga guru
Ataukah kini aku tak tahu
Menghargai guru?
1987

Banyak kiat atau cara membaca diri sekaligus kaitannya dengan membaca zaman. Sebutlah di antaranya metode SQ4R (survey, question, read, recite, record, and review); analisis SWOT (strength, weakness, opportunities, and threat); perspektif sosilogi: kedudukan (status) dan peranan (role); dialektika Hegel: tesis, antitesis, dan sintesis; atau rumus para ‘wartawan’: 5W + 1H (what, who, where, when, why, and how). Jika diambil ‘benang merah’-nya, saya menyebutnya cara mengenal ‘apa’ dan ‘siapa’ diri.

Hipotesis (kesimpulan sementara) saya bahwa ‘diri’ (kita) adalah pelayan, buruh, hamba, abdi, atau sahaya (etimologi ‘saya’), yang terilhami dari QS 2: 30 dan 51: 56, yakni manifestasi ‘beramal’ sebagai tugas kedua kita atau, seperti pendapat Muhammad Abduh Tuasikal di atas, ‘bacaan’ kita sebagai manusia terhadap apa yang diperintah dan dilarang Tuhan.

Lalu, apa manfaatnya? Manfaat membaca diri sebagaimana hikmah dari tasawuf (sufisme), “Yang mengenal dirinya, maka telah mengenal Tuhan-nya.” Pemaknaan hikmah ini -- meminjam slogan film The Three Musketeers -- adalah One for all atau all for One. Satu itu semua asal atau semua berasal dari Satu. Satu itu Tuhan.

Bagaimana membaca Tuhan? Ya itu, membaca diri, membaca ciptaan-Nya; apa diri; siapa diri; bagaimana diri; mengapa diri; mengapa kita yang diutus, bukan berjuta zigot saudara kita; apa maksud dan tujuan hidup kita, dst. Sedikit demi sedikit jawaban diperoleh, tentu hidup kita tidak akan linglung; tidak akan stres. Dari mana kita tahu maksud dan tujuan hidup kita? Dari doktrin agama. Dari agama-lah kita tahu bagaimana hidup di bumi atau ada kehidupan lho setelah hidup di bumi ini.

Menyambut Hari Buku Nasional (17 Mei) ini, perkenankan saya cantumkan ‘puisi’ saya,

#buku

buku itu lembar kertas yang berjilid,
berisi tulisan atau kosong; kitab
buku itu bukti kuat
buku itu bacaan
ada buku kecil, ada buku besar
kecil itu yang dijilid
besar itu di depan mata
saking besarnya atawa saking dekatnya
jadi tak terlihat, jadi tak terbaca
buku besar itu kita …
smoga kita terima buku kita
dengan tangan kanan kita, aamiin

Wa Allaah a’laam.


Bandung, 20160517, 01.51.

Sumber foto: google/rehal